September

Aku adalah waktu yang tak tepat pada September malam itu. Berada diantara garis tunggu ruang dan waktu serta chat dengan balasan tidak panjang dari dia buatmu saat itu (dan esok-esoknya).

Dalam percakapan telepon pertama kita yang ditutup dengan aku yang tanpa sadar tertidur pulas (entah karena suaramu yang meng-gasmkan semua hal atau karena waktu itu memang sudah jam biologisku dalam hal lelap-melelap) kau berkata bahwa aku berbeda dan untuk melupakanku (jika takdir memaksabegitu)  tidak akan semudah melupakan para tetua yang menduduki posisiku pada dulu-dulu zamanmu (dalam hati aku tersentuh, seperti kupu-kupu yang meledak pada perutku atau bunga yang secara tiba-tiba mekar di paru-paruku, walau memang sebenarnya bagian terjenius dalam kepalaku berkata bahwa tuturanmu itu sebullshit pujian cantik dari kakak-kakak sepupuku) Betapa menggelikannya.

Karena pada saat itu dan bulan-bulan didepannya datangku selalu tidak tepat. Dan tiap kejutan tak sengaja pada pertemuan kita atau cerita-cerita tak bermakna pada siang-sore-malam yang dihantarkan oleh gawai mu dan ku, seharusnya tidak membuatku tertawa lagi, seharusnya.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s