Bagian kehilangan.

Karena walaupun bagian yang-pernah-dekat-dengan-kalian menghilang, rasa kehilangan nggak selalu ada, nggak selalu besar. Kata-kata seperti, “Z meninggal” yang diberitahukan lewat pesan telepon dengan nada bergetar dari si A sebagai sambutan selamat-pagi mungkin cuma bisa bikin kaget sebentar dan kaget itupun karena A nangis, bukan karena berita duka. Dan bagian tentang itu nggak salah. Walaupun mungkin […]

September

Aku adalah waktu yang tak tepat pada September malam itu. Berada diantara garis tunggu ruang dan waktu serta chat dengan balasan tidak panjang dari dia buatmu saat itu (dan esok-esoknya).

Dalam percakapan telepon pertama kita yang ditutup dengan aku yang tanpa sadar tertidur pulas (entah karena suaramu yang meng-gasmkan semua hal atau karena waktu itu memang sudah jam biologisku dalam hal lelap-melelap) kau berkata bahwa aku berbeda dan untuk melupakanku (jika takdir Continue reading “September”

730

Pada delapan belas, jarak akan mengambil waktunya, bagian sama yang pernah memecah kita pada 219 putaran bulan milik mereka. Dua tahun akan menjadi sesingkat kiamat. Aku akan merindu sambil menangis, didepan ponsel sembari mengais. Lekukan senyummu pada layar ponsel atau keluh kesahmu yang kau kirim pada hari itu akan menjadi rindu yang bakal kusulam lagi. […]

Bangun-tidur pagi

Bagian paling menyenangkan dari bangun pagi adalah tertidur lagi pada pagi yang sama, dibawah selimut yang benar-benar bisa menggantikan kebutuhan saya akan pelukan dari si Anu sembari memeluk guling yang menyimpan banyak dingin. Ya gitu.

Tolong buat saya jatuh cinta!

Akhirnya setelah tiga tahun belajar di MIIA milik SMADA, setengah tahun lebih sedikit memisuhi buku tebal SBM dan UN SMA, empat kali dinyatakan bisa ikut tes seleksi perguruan tinggi (SNM, SBM, UTUL UGM, UM UNY), dua kali di tolak (SNM, UTUL UGM), satu kali diterima tetapi tidak mendapat restu dari keluarga besar (entah kenapa), akhirnya […]

Akhir suatu hari

Nafasku akan menjadi satu, bergerak bersamaan, memenuhi, menyesakkan. Banyak rasa yang ingin kukatakan, tangis yang ingin kutembakkan. Tetapi sesuatu dalam manikmu melenyapkan—semua. Pada akhir hari yang panjang, kata-kata yang kurangkai tadi siang menghilang. — p.s: benar-benar hilang, tadi siang banyak kalimat hujatan dan malam ini semua hilang.

Makanya gek nikah!

Hari itu entah karena perkara apa hampir semua bagian dari keluarga besar Sutrisno yang menyesakkan kota Jogja (tentu saja) berkumpul sembari makan-makan dirumah pakdhe tertua di Condong Catur. Banyak pembicaraan, kalimat-kalimat yang kutahu bagimana maksudnya tetapi tak kupahami alur ceritanya, keluh-kesah, dan beberapa candaan yang tidak membuatku benar-benar tertawa. “Makanya gek nikah!” sepenggal kalimat entah […]